Kamis, 17 Juni 2021

Rilis Agenda "Merajut Silaturahmi, Merawat Tradisi, Ngalap Syafa’at e Kanjeng Nabi"

 


Semakin berkembangnya tekonologi tidak membuat rekan-rekanita IPNU IPPNU Ranting Wringinrejo menghilangkan Tradisi Nahdlatul Ulama’ yakni dengan Pembacaan Sholawat Nabi atau yang dikenal dengan diba’an. Tradisi diba’an tersebut dilaksanakan pada hari Minggu, 13 Juni 2021 yang bertempat di Musolla Al-Hikmah Dsn. Wringinrejo Ds. Wringinrejo. Kegiatan tersebut telah dilaksanakan pukul 15.00 WIB setelah sholat ashar yang dihadiri oleh rekan-rekanita ranting IPNU IPPNU Wringinrejo serta pengurus PAC IPNU IPPNU Sooko. Acara tersebut telah dibuka oleh rekan Riki sebagai Master Of Ceremony  dan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci alquran yang dibawakan oleh Rekan hafidz. Setelah pembacaan ayat suci alquran dilanjut dengan Pembacaan diba’ barzanji. Pembacaannya pun dilakukan secara bergilir oleh rekan-rekanita. Setelah sampai pada fatazzal, dan puncaknya yakni Mahallul qiyam, pembacaan sholawat nabipun dipandu oleh grup albanjari ranting Wringinrejo, yang dilakukan dengan khusyu’ dan khidmad. Setelah pembacaan sholawat nabi sudah selesai dititup dengan doa yang dibacakan oleh rekan alfan. Akhir dari acara tersebut yakni diakhiri dengan ramah tamah serta bincang asa oleh rekan-rekanita,

Inti dari inti kegiatan tersebut yakni untuk mempererat tali silaturahmi dan melestarikan tradisi dengan cara pembacaan sholawat nabi, supoyo oleh barokah e lan syafa’ate kanjeng nabi. :Tetap Ngurip-Nguripi NU dengan melestarikan peninggalan ulama’-ulama’ NU, Nasihat Ulama dipegang dan selalu di ingat, agar menjadi NU yang lebih kuat. Dan niat untuk berkhidmah!


Pewarta : Rekanita Anniza Nur Pratiwi

Sabtu, 12 Juni 2021

Puisi "Rintihan Budak Nafsu"

 

“RINTIHAN BUDAK NAFSU”

Oleh : Rekanita Mufidah Nazilatul Habibah

 

Sepenggal mentari bersinar hangat

Kusingkap mata malu menatap

Berdiri di hadapan tuan,

Hamba Sang Mudabbir Alam

Degup kalbu menjebak kebisuan lisan

“Aku hanyalah si budak sahaya.

Ampunilah segala nestapa pikiran, hati dan jiwa.

Segores cinta terbuai oleh nafsu.

Merapuhkan jiwa kokoh sepasang qalbu.”

Laksana bunga-bunga memekar pedih.

Berguguranlah ia bahagia.

 

Surabaya, 14 Juli 2019

(Antologi Puisi “Menapaki Ranah Syukur”)[1]

 




[1] Nyimas Pundi Baladaya, dkk., Menapaki Ranah Syukur, (Malang: CV. Azizah Publishing), 2019.

Kamis, 03 Juni 2021

Puisi "Rumus yang Hilang"

 Rumus yang Hilang

Oleh : Rekan Muh. Rizki Firmansyah


Aku disuruh menghafal alfabet

Mulai dari A sampai Z

Kemudian belajar membentuk sebuah kata

Dari mengeja KA sampai TA

Hingga akhrinya bisa terbaca

KA-TA


Terbata-bata...

Aku juga disuruh menghafal angka

Mulai dari kosong,

Cara untuk berbohong


Kemudian lanjut ke angka satu

Taktik untuk Menipu

Hingga sepuluh,

Sebuah rumus untuk bertaruh


Setelah itu, Aku belajar menghitung

Agar tahu caranya untung

Juga terhindar dari segala buntung


Tak lupa pula aku belajar tambah-menambah

Yang selalu menuntut agar berubah

Meski harus memanipulasi yang dianggap sah


Aku belajar kurang mengurang

merencanakan yang ada agar lekas hilang

terakhir, aku belajar kali-mengali

Sebab aku tahu, segala sesuatu bisa diakali

Asal perut tetap terisi

Gang Mustajab, 18 April 2018