Sabtu, 09 Oktober 2021

Cerita Mini "Ketika Rasa Bersua"

 Ketika Rasa Bersua

Oleh : Rekanita Adhelia Putri Chandra P. (Dhelcha)


Beberapa kali kerap kita bicara mengenai rasa yang entah sejak kapan memenuhi rongga dada. Beberapa kali pula kerap kau berbincang mengenai apa-apa yang seharusnya kupanjatkan dalam doa. Dan, beberapa kali itulah harapan-harapan untuk bersamamu tumbuh. Bahkan, pada tengah malam, saat di mana mata-mata mereka terpejam, aku masih saja terjaga sembari sesekali berdiskusi dengan Tuhanku ─ membicarakanmu. Padahal, sebelumnya kau sudah berkata, “Tidak ada rasa apa pun yang kusimpan untukmu.”

“Ah, semesta memang pelik!” Begitulah ucapku setiap kali aku mengingat namamu, membayang senyummu, pun merindumu.

Seperti malam ini. Sepi yang menyapa kembali membawaku pada angan-angan mengenaimu. Sesekali aku mengingat bagaimana dekatnya kita beberapa tempo lalu. Eh, tunggu. Kita yang dekat atau hanya aku yang menganggap kita dekat? Ah, entahlah. Aku tak mengerti. Namun, yang jelas aku ingat, malam itu kau berkata, “Berdoa saja yang terbaik.”

Hahaha! Aku kembali mengulas senyum mirisku. Bahkan, aku berharap hanya karena satu kalimat yang mungkin terucap hanya untuk menjadi penenang. Bodoh memang, tapi aku tak mampu mengelak bahwa ada rasa yang menjalar dalam rongga dada tiap kali mengingat percakapan kita malam itu ─ malam di mana aku bertanya banyak hal mengenai dirimu.

Ah, sial! Ketika rasa bersua, semua seolah berubah. Apa-apa yang kupandang selalu mengingatkanku padamu. Apa-apa yang kudengar selalu membawakan rindu yang begitu dalam untukmu. Bahkan, apa-apa yang menjadi bayang-bayangku pada ruang kosong itu, selalu saja tertuju padamu. Padahal, logikaku sudah mengetahui bahwa kau tak menyukai itu. Namun, sudahlah. Tak ada gunanya pula merangkai aksara panjang-panjang bila kau tak mengerti apa maksud yang sebenarnya ingin kuutarakan. Jadi, cukup sekian saja cerita yang terangkai dari kisah kita malam itu. Maaf, aku keliru. Maksudku, kisah dari rasa untukmu yang bersua dalam dadaku, menyentuh kalbu, menebar rindu, mengharap balasan yang ... ah sudahlah!

Minggu, 29 Agustus 2021

Cerita Mini "Tuhan yang Maha Baik oleh Angin"

 

Tuhan yang Maha Baik oleh Angin

Oleh: Dhelcha (Rekanita Adhelia Putri)


Malam dengan segala kegelapannya memberi keharusan yang tak pernah bisa terelak. Kala mata-mata mereka terpejam dengan erat pun jiwa mereka melayang di atas mimpi yang membayang, mataku masih saja terbuka dengan jiwa yang berjalan di atas pikiran-pikiran yang melelahkan. Tangis kembali tumpah; mencurahkan selaksa kesesatan derita yang membanjiri dada. 


"Tuhan, lantas luka mana lagi yang ingin Kau curahkan pada hamba-Mu ini? Pun, derita mana lagi yang ingin Kau gunakan sebagai penguji imanku yang lemah? Aku lelah, Tuhan. Sungguh!" Bisik-bisik doa itulah yang tiap kali terukir dari bibir ranumku dalam kekosongan malam. Bertanya-tanya kepada Tuhan mengenai kesengsaran yang entah kapan akan berakhir kebahagiaan, sekaligus menuntut keadilan akan tangis yang senantiasa jatuh dalam kegelapan.


Kemudian, sayup-sayup kudengar angin berbisik, "Tuhan itu sangat tahu pada hamba-Nya. Termasuk dirimu. Tak usah kau katakan bahwa kau lelah, Dia tahu. Tak usah kau ceritakan masalahmu, Dia mengerti. Tuhanmu juga Maha Adil lagi Maha Pemberi Keadilan. Tuhanmu itu adalah Yang Maha Baik lagi Maha Sempurna. Percayalah pada garis waktu yang telah Dia tetapkan."


Sejenak, aku terdiam. Lalu bertanya, "Jika benar Dia adil, lantas mengapa Dia memberiku duka yang tiada habisnya? Jika benar Dia itu Yang Maha Baik lagi Maha Sempurna, lantas mengapa hanya aku yang Dia beri selaksa pilu?"


"Hei, Gadis Manis. Sadarkah kau dengan ucapanmu itu?! Sekali lagi, sungguh! Kau telah kembali meragukan Tuhanmu." Begitulah kata angin yang tengah berembus malam ini, menebarkan kedinginan di antara keheningan. 


Lagi-lagi, aku terdiam. Pikiranku mulai goyah dengan segala perkataan mengenai Tuhan. Begitu pula dengan hatiku yang mulai dipenuhi kesesatan sebab ujian yang tiada habisnya. Tak lama, kudengar kembali angin berkata, "Sekali lagi kukatakan padamu, Gadis Manis. Bahwa sesungguhnya Tuhanmu tak pernah ingkar pada janji-Nya. Dia memberimu kesengsaraan, guna menghapus dosa-dosa yang telah kau perbuat sembari mengujimu akan derajat yang Dia berikan. Dia tidak memberimu bahagia seperti yang lainnya sebab Dia begitu mencintaimu. Dia ingin kau selalu ada di dekat-Nya dengan terus menyembah dan beribadah kepada-Nya. Dia ingin kau terus berdoa hingga kau lupa mengenai dunia. Ketahuilah, Manis. Tuhanmu itu tak ingin kau jauh darinya. Oleh karena itu, percayalah pada apa-apa yang telah Dia tetapkan. Sekali lagi, sungguh! Tuhanmu itu Maha Baik lagi Maha Sempurna. Sekarang, pulanglah. Kembalilah ke jalan di mana seharusnya kau berjalan. Kau telah tersesat begitu jauh, hingga kau lupa menunaikan sujud sepertiga malammu."


Dan, sekali lagi sungguh! Aku seperti tertampar oleh apa-apa yang diucapkan angin malam ini. Ah, payah! Bagaimana bisa aku meragukan Tuhanku? Dia yang memberiku kekuatan pun kehidupan. Dia yang begitu menyayangiku, melebihi kedua orang tuaku. Namun, aku dengan lalai lupa pada-Nya pun meragukan keagungan-Nya. Ah, dasar payah!


-Tengah Malam di Bumi Majapahit, 2021

Senin, 02 Agustus 2021

Cerita Pendek "Hujan, Hujami Perasaan."

 Hujan, Hujami Perasaan

Oleh : Rekan Badrus Salam

Merpati beterbangan diatas pohon, alangkah menawan dengan bulunya yang putih jatuh perlahan. Angin yang meniupnya begitu kencang, tak menyurutkan tekadnya untuk kembali pulang. Pun juga aku, seorang remaja yang hanya termangu menunggu hujan reda di samping pejalanan kota. Tiap rintik hujan yang membasahi kepala, sedikit saja mengingatkan sebuah kenangan tak terlupakan.

Angin yang bertiup perlahan-lahan seraya berbisik pada telinga menyebut nama-nama dan spontan merangkai sebutir kata-kata.

"Zahra, bungaku. Rindang pepohonan yang menaungi tatkala hujanku. Oase segar ditengah hausku. Cahaya diantara bimbangku. Mutiara diantara samudra kesedihanku. Kemarilah dan rengkuh aku. Kekasihmu yang lapar dan haus akan kasih sayang. "

Seketika selayang kenang pada kening melesat memenuhi seisi kepala. Pertemuan pertama dengan Zahra,  Bunga Melati yang mekar dihati.

Ketika itu embun pagi membasahi kedua pipi manis seorang wanita, ia sedih, entah siapakah yang tega menyakiti hati seorang bunga seindah ini. Siapa pula yang tega mengabaikan ia sendirian.

Sekejap saja hatiku tergugah untuk menenangkannya. Bulu matanya yang basah membuat setiap sendi meraung kesakitan. Sedihnya ialah sedihku, kita bagai satu anggota badan. Jika salah satunya merasa sakit maka air mata akan menetes dan spontan mulut berteriak kesakitan.

Aku menghampiri wanita yang basah kedua pipinya seraya berkata, "siapa gerangan yang tega melihat seorang merasa sedih sendirian ditengah panasnya siang? duka apa yang membuat kedua pipimu basah kuyup?"

Seketika wajah cantiknya menoleh pada diriku sambil mengusap kedua pipinya, sesekali menampakkan senyum tanda dia baik-baik saja, tetapi aku tahu dia menyimpan sedih, namun senyumannya pada saat itu benar-benar menyihir hatiku untuk tunduk padanya.

Nyaris sejak hari itu hatiku terpaku, mulutku berbusa lelah menyebut namanya, pikiranku terus berputar diantara fatamorgana wajahnya.

Seakan-akan seluruh tubuh dan ruhku berkata aku mencintainya. Nyaris berhari-hari tak lelah aku menasbihkan namanya, hatiku bergejolak seperti ombak tatkala memandang wajahnya.

Terkadang, tubuhku bergerak sendiri mengikuti tiap derap langkahnya, memandang punggungnya dan tak tahu kapan harus berhenti mengikutinya seperti seekor anak itik yang terus mengikuti induknya. Sampai-sampai sahabatku memanggilku sebagai mata-mata Cinta. Ia terheran-heran dengan sikapku yang aneh.

"Kau ini kenapa? Seperti mata-mata? Mengikuti setiap derap langkah seorang wanita? Ataukah kau ini penjahat kelamin? Haha," gurau kawanku tiap melihat tingkah anehku.

"Aku hanya mencintai seseorang. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku bagaikan daun dan dia adalah angin, yang menerbangkanku, tujuan akhirku, jalan pulangku, tapak kakiku. Hanya mencintainya."

Sahabatku pun kaget melihat tingkah anehku, ia merasa ada yang salah dengan tingkah sahabat karibnya ini. Tatapannya seolah kosong, entah pikirannya pergi kemana.

"Kau terkena guna-guna? Astagfirullah. Rasanya kau perlu di ruqyah, "ujar kawanku dengan tatapan serius.

"Tidak! Cinta bukanlah sihir. Ataupun penyakit. Cinta adalah makanan sehari-hari jiwa kita. Eksistensi kehidupan dunia tak sekedar mencari dan memenuhi hasrat terhadap materi belaka. Jiwa yang selama ini kurus kering dan kering kerontang tak dipenuhi kebutuhannya meminta untuk diisi dan diberi makan juga bukan?"

Wajah sahabatku heran sampai menggelengkan kepalanya, ia kehabisan kata-kata. Rasanya sulit sekali menasehati orang yang jatuh cinta. Cinta bukan berarti keras kepala, namun cinta adalah perasaaan indah yang tak bisa dijelaskan, tak bisa dipaksakan. Hanya orang yang mencintai yang merasakan keindahannya.

Begitulah kiranya. Pertemuan pertamaku dengannya, namun sampai saat ini aku belum berani mengungkapkan perasaanku untuknya. Ragu terus menghantuiku, bagaikan angin topan yang membuatku berputar-putar pada siklus keraguan akan pernyataan Cinta.

Aku teringat perkataan Jalaludin Rumi. Bahwa mencintai dalam diam tak akan kutemukan penolakan, tak ada orang lain yang memilikinya selain aku. Benar kata rumi, mencintai dalam diam penuh keindahan dan jutaan harapan yang tak tersampaikan. Cinta dalam diam adalah kesabaran, menunggu yang tak tentu, menanti yang tak berhenti, mencintai yang tak berharap dicintai.

Hujan masih deras, tanah-tanah menjadi basah, dedaunan dan bunga-bunga, aku rasa mereka bahagia. Hujan adalah kawan walaupun ia sering kali merintikkan kenangan. Aku masih menunggu hujan mereda, sambil menikmati udara dingin yang meresap. Sorot tatap mataku pun berpaling ketika melihat sosok dengan hijab bewarna hitam, ia ada di seberang pejalanan kota.

Ia menoleh padaku dari kejauhan, ia nampak seperti seseorang yang kucinta. Ya benar, aku tak salah. Dia adalah bunga Melati yang mekar di hati, Zahra. Senyumnya bagaikan oase di padang pasir, musafir mana  yanh tak bahagia ketika melihatnya? Sorot tatap matanya seperti sebotol anggur, sedikit saja kutatap mabuk kepalang seisi kepala. Saat melihatnya hatiku berdebar, menyambar seperti petir. Pecinta mana yang tak bahagia ketika bertemu sosok yang dicintai?

Mataku tak bisa berpaling darinya, seperti bumi yang terus mengelilingi sang Matahari. Kau lah pusat tata Surya cintaku, tempatku berthawaf. Kau gravitasi yang paling kuat diantara banyaknya galaksi. Aku benci pada mobil-mobil yang berlalu-lalang menutupi wajahmu, ia ibarat gerhana yang menutupi cahayamu. Bagiku kau begitu dekat tak bersekat pun juga kau begitu jauh

Tak tersentuh...

Layaknya siang dan malam, hidup tak melulu selalu bahagia. Pun juga dalam mencintai dalam diam. pasti ada waktu dimana duka itu tiba. Mencintai dalam diam memang Indah, tiada yang bisa memilikinya dalam khayal kita. Namun duka itu seketika datang, secepat sambaran kilat, tepat di depan mataku.

Seseorang datang menemui bunga melatiku, sembari tersenyum dan mencium kedua pipi melatiku. Ia memegang tangannya, hatiku pun bergejolak bagai ombak yang meraung menjelma tsunami. Rasanya seperti dihujam sepuluh ribu duri.  Lelaki bertubuh tinggi dengan pakaian rapi itu memberikan kotak berisi coklat pada kasihku. Ia bagai pak tani yang mencabuti lahan bungaku Membuat Taman bunga yang mekar dihatiku seketika menjadi lahan tandus gurun sahara, hampa tiada bunga maupun pepohonan yang menghiasi.

Luka terbesar bagi pecinta adalah ketika yang dikasihinya mencintai orang lain. Dan seketika aku merasa seperti debu, yang kian diabaikan sang angin. Tak ada hal lain yang diinginkan debu selain jatuh sejatuh-jatuhnya. Namun keindahan sang angin mencegahnya. Begitulah kiranya nasibku kini.

Dalam ruhku, sudah ratusan liter air membasahi mataku, jiwaku berteriak keras, meraung-raung dalam kesunyian. Hujan tak hanya membasahi seluruh kota, kini hujan telah membasahi kedua mataku. Tak ada majas ataupun kata-kata yang mampu mendeskripsikan perasaanku saat ini.

Memang begitulah konsekuensi mencintai dalam diam. Hati harus siap terhujam, penuh ketabahan, penuh keyakinan. Bahwa Cinta tak akan kemana-mana, meski kau telah menemukan sandaran bahu, aku akan tetap tegar dengan pendirianku. Mencintaimu dalam kesenyapan, kesunyian, Karena dalam diam tak kutemui penolakan. Meski hatiku kini segersang gurun sahara, kau adalah oase-oase yang menghiasinya, tak kubiarkan kau pergi dalam hati. Hujan, Guntur dan awan-awan hitam menjadi saksi bahwa Cinta tak akan pernah padam, meski tanpa kata, tanpa balas, tanpa apa-apa. Mencintai adalah kodrat tiap manusia.*

 

-teruntuk mereka yang tabah mencintai tanpa berharap kembali.

Selasa, 13 Juli 2021

Di Balik Bakiak Pak Kiai

Oleh: Nuriyah Rahmawati
Oleh: Nuriyah Rahmawati


Malam larut, tapi tekadnya tak surut

Kantuk mengutuk, tapi semangat enggan melekuk

Denting suara membelah sunyi

Bakiak Pak Kiai menembus sepi

Mereka menunduk, lalu berebut membenahi bakiak kesayangan

 

Di hadapan dampar

Bercengkrama dengan pena dan utawi iki iku

Mata memaksa untuk terpejam

Namun hati merayu untuk melawan

 

Pak Kiai Dawuh tentang ini dan itu

Mereka masih melongo

Lugu dan bodoh

Lalu Pak Kiai berkata, "Bukan tentang cepat dalam memahami ilmu, tapi dalam proses panjang itulah gusti Allah turunkan ridho"

 

Mereka menunduk, hatinya mengaharu

Suara itu mengalir di nadi, merebah di dada

Ridho Allah dikejar tanpa letih, ridho Kiai diburunya tanpa henti

Yang mungkin bersembunyi di balik bakiak tua ini

 

Ruang renung, 5 Juli 2021

Kamis, 17 Juni 2021

Rilis Agenda "Merajut Silaturahmi, Merawat Tradisi, Ngalap Syafa’at e Kanjeng Nabi"

 


Semakin berkembangnya tekonologi tidak membuat rekan-rekanita IPNU IPPNU Ranting Wringinrejo menghilangkan Tradisi Nahdlatul Ulama’ yakni dengan Pembacaan Sholawat Nabi atau yang dikenal dengan diba’an. Tradisi diba’an tersebut dilaksanakan pada hari Minggu, 13 Juni 2021 yang bertempat di Musolla Al-Hikmah Dsn. Wringinrejo Ds. Wringinrejo. Kegiatan tersebut telah dilaksanakan pukul 15.00 WIB setelah sholat ashar yang dihadiri oleh rekan-rekanita ranting IPNU IPPNU Wringinrejo serta pengurus PAC IPNU IPPNU Sooko. Acara tersebut telah dibuka oleh rekan Riki sebagai Master Of Ceremony  dan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci alquran yang dibawakan oleh Rekan hafidz. Setelah pembacaan ayat suci alquran dilanjut dengan Pembacaan diba’ barzanji. Pembacaannya pun dilakukan secara bergilir oleh rekan-rekanita. Setelah sampai pada fatazzal, dan puncaknya yakni Mahallul qiyam, pembacaan sholawat nabipun dipandu oleh grup albanjari ranting Wringinrejo, yang dilakukan dengan khusyu’ dan khidmad. Setelah pembacaan sholawat nabi sudah selesai dititup dengan doa yang dibacakan oleh rekan alfan. Akhir dari acara tersebut yakni diakhiri dengan ramah tamah serta bincang asa oleh rekan-rekanita,

Inti dari inti kegiatan tersebut yakni untuk mempererat tali silaturahmi dan melestarikan tradisi dengan cara pembacaan sholawat nabi, supoyo oleh barokah e lan syafa’ate kanjeng nabi. :Tetap Ngurip-Nguripi NU dengan melestarikan peninggalan ulama’-ulama’ NU, Nasihat Ulama dipegang dan selalu di ingat, agar menjadi NU yang lebih kuat. Dan niat untuk berkhidmah!


Pewarta : Rekanita Anniza Nur Pratiwi

Sabtu, 12 Juni 2021

Puisi "Rintihan Budak Nafsu"

 

“RINTIHAN BUDAK NAFSU”

Oleh : Rekanita Mufidah Nazilatul Habibah

 

Sepenggal mentari bersinar hangat

Kusingkap mata malu menatap

Berdiri di hadapan tuan,

Hamba Sang Mudabbir Alam

Degup kalbu menjebak kebisuan lisan

“Aku hanyalah si budak sahaya.

Ampunilah segala nestapa pikiran, hati dan jiwa.

Segores cinta terbuai oleh nafsu.

Merapuhkan jiwa kokoh sepasang qalbu.”

Laksana bunga-bunga memekar pedih.

Berguguranlah ia bahagia.

 

Surabaya, 14 Juli 2019

(Antologi Puisi “Menapaki Ranah Syukur”)[1]

 




[1] Nyimas Pundi Baladaya, dkk., Menapaki Ranah Syukur, (Malang: CV. Azizah Publishing), 2019.

Kamis, 03 Juni 2021

Puisi "Rumus yang Hilang"

 Rumus yang Hilang

Oleh : Rekan Muh. Rizki Firmansyah


Aku disuruh menghafal alfabet

Mulai dari A sampai Z

Kemudian belajar membentuk sebuah kata

Dari mengeja KA sampai TA

Hingga akhrinya bisa terbaca

KA-TA


Terbata-bata...

Aku juga disuruh menghafal angka

Mulai dari kosong,

Cara untuk berbohong


Kemudian lanjut ke angka satu

Taktik untuk Menipu

Hingga sepuluh,

Sebuah rumus untuk bertaruh


Setelah itu, Aku belajar menghitung

Agar tahu caranya untung

Juga terhindar dari segala buntung


Tak lupa pula aku belajar tambah-menambah

Yang selalu menuntut agar berubah

Meski harus memanipulasi yang dianggap sah


Aku belajar kurang mengurang

merencanakan yang ada agar lekas hilang

terakhir, aku belajar kali-mengali

Sebab aku tahu, segala sesuatu bisa diakali

Asal perut tetap terisi

Gang Mustajab, 18 April 2018

Sabtu, 29 Mei 2021

Puisi "Rindu Candu"

 

“RINDU CANDU”

Oleh : Rekanita Maufidah Nazilatul Habibah

 

Sajak ini kurangkai kala jiwa mulai sepi

Meski relung hati tiada sunyi

Alunan syahdu rindu bergemuruh

Suguhkan guratan tangis sendu, jatuh meluruh.

Menyatu hingga beku, diam dan membisu.

 

Lagi-lagi rindu menyayat ruang ingatan,

Bagai senja menawarkan candu keindahan

Pesonanya menghias ruang semesta

Mengingatkan betapa kuasa Sang Maha Pencipta

Seperti pesan buya yang bersahaja, “Besarkan rasa syukurmu.”

 

Kini masa telah sirna, lembayung berganti sinar purnama

Sedang jiwaku masih menggenggam rindu

Berkelana menelusuri waktu, hingga senja kembali bersua

Menorehkan cahaya syahdu

 

Mojokerto, 20 Mei 2021

8 Syawal 1442 H

Minggu, 23 Mei 2021

Cerpen "Cinta yang Tulus"

 Cinta yang Tulus

Oleh : Rekan Ahmad Rifki

Cinta selalu dengan sejuta rasa sakit, karena itulah mengapa ia disebut Cinta. Di tangan kekasihku di genggamnya sejuta derita, karena tanpa derita Cinta hanya hampa belaka. Wahai Cinta, kaujadikan dia pahit di bibirku. Wahai Cinta, kau gigit pedih darah jantungku, sampai kau bekukan gejolak napas dan nafsuku, sampai kau uji Cintaku dalam Cintamu. Begitulah perkataan Fariddudin Attar, salah satu tokoh Sufi dari daratan persia. Begitu luas jika kita semua mebahas tentang cinta, karena cinta bukan soal pembahasan melainkan sebuah perasaan yang dibuktikan dengan perlakuan serta kayakinan. Jalaluddin Rumi berkata Cintalah yang merubah segalanya. Orang yang kuat perkasa menjadi tak berdaya karena cinta, Orang yang lemah tak berdaya menjadi semangat bertenaga karena cinta, orang bisa menangis dan tertawa juga karena cinta.

Imam Syihabuddin dalam kitabnya yang berjudul An-Nawadir pada halaman 27 menceritakan tentang keutamaan cinta yang tulus. Terdapat seorang permpuan, dia sangat cinta dengan Nabi Muhammad Saw. Di suatu hari perempuan ini ingin pergi masjid hanya untuk mendengarkan ceramah dari Nabi Muhammad Saw. Namun pada saat dalam perjalanan perempuan ini bertemu dengan seorang seorang pemuda, pemuda itu bertanya kepadanya.


Pemuda : “kamu mau pergi kemana ?”


Perempuan : “Saya hendak ingin pergi kemasjid, untuk mendengarkan nasihat Rasululloh”


Pemuda : “Kamun cinta dengan Nabi Muhammad Saw ?”


Perempuan : “Ya, saya cinta dengan Nabi Muhammad Saw.” (dengan jawaban yang    sangat tegas)


Laki-laki itu pun ingin tahu seberapakah perempuan ini cinta dengan Nabi, dia pun menyuruh perempuan itu untuk membuka cadar yang digunakan oleh perempuan itu, dengan berkata :


Pemuda : “Bihaaqqi Nabi Muhammad Saw, coba kamu buka cadar yang kamu gunakan !!!”


Karena perempuan ini memang sangat cinta dengan Rasululloh, untuk menghormati nama Nabi Muhammad Saw, perempuan ini mengangkat cadar yang digunakannya. Pemuda itu pun melihat wajah sang perempuan, ternyata perempuan itu sangat cantik. Sampai-sampai tangan pemuda itu memegang janggut sang perempuan. Seketika itu, sang perempuan terkejut atas apa yang telah dilakukan pemuda itu pada dirinya. Seketika itu, Perempuan menutup wajahnya kembali dengan cadar yang telah dilepaskannya, dan berkata kepada pemuda itu,


Perempuan : “Sungguh saya menyesal telah mebuka cadar yang menutupi wajahku” 


Perempuan itu pun menceritakan kepada suaminya, terkait kejadian yang telah menimpanya. Setelah perempuan itu menceritakan kepada suaminya, sang suami seketika itu pergi menemui Nabi Muhammad Saw, dan menceritakan apa yang telah diceritakan oleh istrinya kepadanya. Setelah Nabi mendengarkan ceritanya, Nabi Muhammad berkata, “Hidupkanlah api dirumahmu, setelah itu masukkan istrimu di dalam panggangan itu, dengan mengucapkan BIHAQQI NABI MUHAMMAD SAW”.


Sang suami melaksanakan apa yang diperintahkan Nabi kepadanya. Suamipun pulang dan menyalakan api. Setelah itu menyuruh istrinya untuk masuk dalam panggangan itu. Sang istripun melaksanakan apa yang dikatakan sang suami, dengan keyakinan serta ketulusan cinta sang istri kepada Nabi Muhammad Saw, perempuan itu pun masuk dalam panggangan dan mengucapkan, “Dengan Kemulyaan BIHAQQI NABI MUHAMMAD SAW”. Perempuan itu pun masuk ke dalam panggangan itu. Sang suami menutup panggangan itu. Setelah menutup panggangan yang didalamnya terdapat sang istri, sang suami pun pergi menuju Rasululloh dan memberitahukan dia sudah melaksanakan perintah yang disuruh oleh Nabi Muhammad Saw. Setelah mendengarkan ceritanya, Nabi pun berkata, “Kembalilah, dan lihatlah apa yang terjadi pada istrimu”. Sang suami pun kembali untuk melihat kondisi istrinya yang berada dalam panggangan. Sesampai dirumah, dia bergegas membuka panggangan itu, sang suami pun melihat kejadian yang tak pernah dilihatnya sebelumnya. Dia melihat sang istrinya berada didalam panggangan dengan kondisi sedang duduk ditengah-tengah panggangan yang panas itu. Suami pun mengeluarkan sang istri dari panggangan. Setelah dia mengeluarkan istirnya.

Dengan izin Allah, sang suami tidak menemukan dikulitnya ada bekas luka bakar, dalam artian api itu pun tidak mau menyentuh kulit perempuan itu.

Begitu besar keutamaan cinta terhadap baginda Nabi Muhammad Saw, sampai- sampai para ulama bersepakat bahwa mencintai Allah dan Rasul-Nya hukumnya wajib. Sebagaimana yang ditulis oleh Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazali atau yang dikenal dengan sebutan Imam Al-Ghazali dalam kitab nya yang monumental yakni kitab Ihya’ Ulumuddin Juz 4 halaman 288 dijelaskan bahwa :


اعلم أن الأمة المجمعة على أن الحب الله تعالى ولرسول الله صلى الله عليه وسلم فرض.......الخ 

“Ketahuilah sesungguhnya para Ulama’ sepakat bahwa mencitai Allah dan Rasul-Nya SAW itu hukummnya Wajib. ”

Oleh sabab itu, marilah kita memperbanyak membaca sholawat kepada Nabi Muhammad Saw, dengan mengharap Syafaat dihari kiamat. Semoga kita semua diakui oleh Rasululloh sebagai umatnya dan kelak dia akhirat kita semua diberikan syafaat oleh Rosululloh Saw. Amiin.


Selasa, 18 Mei 2021

Artikel "Cinta Sejati yang Terlupakan"

 Cinta Sejati yang Terlupakan

Oleh : Rekan M. Iqbal Akbar Ghifari

Kita, sebagai remaja yang menuju masa pendewasaan mulai mengenal yang dinamakan cinta. Cinta suatu lafadz yang dianggap sakral bagi sebagian orang yang menjalin rasa suka antara satu sama lain. Banyak kisah cinta yang didambakan oleh para remaja-remaja sekarang seperti kisah dari film titanic, romeo dan juliet bahkan juga laila dan majnun. Rekan-rekanita yang mulai mengikuti IPNU-IPPNU juga mungkin sudah mulai memupuk rasa cinta kepada rekan ataupun rekanita terutama remaja-remaja yang menginjak bangku SMA. Ada yang berjuang merelakan kuota internet untuk terus chattingan dan menelpon orang yang dicintainya, ada juga yang terus berusaha mentraktir orang yang dicintainya supaya bisa selalu bersama dengannya, ada juga yang memilih memendam rasa karena mengerti bahwa cintanya mungkin ditolak. Tapi tahukah kamu cinta sejati sesungguhnya seperti apa dan bagaimana hakikat cinta sesungguhnya?

            Pernahkah kalian berpikir bahwa ada sesosok manusia yang sangat mengkhawatirkanmu melebihi ibumu. Sungguh dia sangat mengkhawatirkanmu melebihi kedua orang tuamu, bahkan dia rela tidak makan tidak minum demi dirimu selamat. Iya dialah Rasulullah Muhammad SAW. cinta sejati yang selalu kita lupakan. Beliau terus bersujud terus menerus sampai menangis demi kita demi keselamatankan kita. Beliau tanpa henti memintakan ampun dan keselamatan bagi umatnya. Berhari-hari lamanya beliau tak kunjung keluar dari rumahnya sampai didatangi oleh shahabat-shahabatnya dia tetap khusu’ dalam doa dan sujudnya untuk memintakan ampun kepada Tuhan atas dosa-dosa umatnya. Sampai ketika Jibril datang memberikan kabar gembira bahwa umatnya semua akan selamat dan tidak ada yang abadi dineraka beliau akhirnya bangun dari sujudnya. Suatu pagi menyelimuti masjid Rasulullah menjadi seorang Imam, saat ruku’ dan sujud terdengar suara seperti goresan kayu yang patah terdengar dari pengimaman. Sehabis Sholat Umar dan shahabat lainnya berkumpul pada Rasulullah dan bertanya kenapa anda tadi wahai Nabi Allah? Rasulullah terus melihatkan didalam bajunya ada batu-batu yang dijadikan rantai untuk diikat keperut Rasulullah shahabat pun menangis “sungguh jika kamu kelaparan kami siap menanggung makananmu ya Rasulullah.” “jangan begitu saya begini untuk umatku supaya mereka tidak kelaparan lebih-lebih kelaparan diakhirat.” Sungguh begitu cintanya Rasulullah sampai beliau rela puasa dan kelaparan sampai perut dan kulit menempel demi kita nanti selamat diakhirat kelak.[1]

            Tidak ada yang lebih indah selain dapat menjadi bagian dari umat Rasulullah bahkan jika kita bersholawat pada nabi maka Allah akan bersholawat kepadanya 10 kali dan menghapus dosanya sepuluh kali, dan diangkat derajatnya sepuluh untuknya. (HR. Nasai No. 1297 Maktabah Al-Maarif. Shahih) terlihat jelas bahwa Allah sangat memulyakan Rasulullah dan terbukti bahwa beliau adalah benar-benar Rasul pembawa kebenaran diakhir zaman. Mari kita berpikir sejenak dengan kehebatan nabi yang bisa menaklukan jazirah arab tetapi beliau tidak memeras rakyatnya dan ingin menang sendiri. Malah beliau mengajarkan kesederhanaan dan juga berzakat kepada yang miskin dan menolong kepada yang lemah. Nabi Muhammad tidak pernah ingin untuk dihormati lebih-lebih mengaku dirinya sebagai Tuhan. Beliau hanya mengaku bahwa Tuhan itu satu dan sembahlah Tuhan pencipta langit dan bumi dialah penguasa alam semesta ini yaitu Allah SWT.

            Adakah orang yang lebih mulia dari Rasulullah dengan membawa Islam, berdiri 1400 tahun yang lalu. Apakah orang yang berbohong mampu perkataannya dan perlakuannya dipercaya sampai 1400 tahun. Perlakuannya perkataannya menjadi hadits-hadits yang terus dilestarikan kitab yang dibawanya sudah dijaga keaslian lafadz dan bahasanya lebih dari 1400 tahun dan terus dibaca dan dihapalkan sampai sekarang. Disetiap zaman selalu ada orang yang hapal kitab Al-Qur’an dan hadits-haditsnya. Apakah mungkin orang berbohong dapat dipercayai lebih dari 1400 Tahun. Dan wahyu yang dibawanya yang menjadi kitab agama Islam keaslianya bertahan 1400 Tahun. Sungguh begitu terlihat jelas kebenaran ajaran Rasulullah. Beliau saat diakhirat ketika para nabi terdahulu berebut untuk berdekatan dengannya karena dasyatnya hari kebangkitan beliau mengatakan bahwa Syafaatnya adalah untuk Umatku. Begitu cintanya beliau terhadap kita tapi kita bahkan lupa untuk bersholawat kepadanya. Beliau menangisi kita karena kemaksiatan kita tetapi kita sibuk dengan mencintai orang yang belum tentu mencintai kita betapa teganya kita terhadap beliau. Maka jika kalian sudah mengerti bahwa cinta sejati sesungguhnya tidak mengenal ruang dan waktu itulah cinta Rasulullah kepada umatnya, sebuah cinta sejati yang selalu kita lupakan.[2]



[1] Al-Hamid Al-Husaini, Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad SAW (Bandung: Pustaka Hidayah, 2008), 678.
[2] Umar bin hasan, Durrotun Nasihin (Beirut: Maktabah al-Islamiyah, 1988), 187.


Selasa, 11 Mei 2021

Artikel "Zakat Fitrah"

 

Oleh : Rekan M. Iqbal Akbar Ghifari

Setelah menunaikan ibadah puasa ada kewajiban yang harus dikerjakan oleh kaum muslimin yaitu mengeluarkan zakat fitrah. Zakat fitrah diwajibkan kepada setiap orang Islam yang masih hidup di malam hari raya idul fitri baligh maupun tidak, kaya ataupun tidak dengan syarat dia masih memiliki kelebihan dari kebutuhan pokoknya untuk sehari. Zakat fitrah juga disyariatkan bersamaan dengan disyariatkannya berpuasa yaitu pada tahun kedua hijriyah.[1]
Batas waktu dari pemberian zakat fitrat semua ulama bersepakat bahwa pemberiannya adalah di akhir bulan ramadhan dan batas terakhirnya menurut Imam Syafi’i dan Imam Malik adalah setelah terbenamnya matahari dan menurut Imam Abu Hanifah dan Ibnu Qasim adalah diwaktu terbitnya matahari tanggal 1 Syawal. Ada juga Ulama yang mengatakan bahwa batas terakhir dari zakat fitrah adalah sebelum waktunya sholat Id dimulai.[2]
Bagi orang yang tidak memiliki harta tetapi masih berkecukupan karena ditanggung nafkahnya oleh walinya seperti anak kecil, istri dan budak maka zakat fitrahnya ditanggungkan kepada orang yang wajib menafkahinya. Zakat fitrah dapat berupa gandung, jagung, kurma, anggur (kismis) atau keju. Menurut sebagian ulama berpendapat bahwa zakat fitrah dapat berupa makanan pokok yang ada diwilayah tersebut. Besaran zakat fitrah adalah 1 sha’ jika dirupakan kepada beras makanan pokok orang Indonesia adalah kisaran 2,2 Kg. Akan tetapi lebih baik untuk digenapkan ke 2,5 Kg untuk kehati-hatian yang demikian ini dianggap baik bagi Ulama.[3]

Delapan golongan orang yang berhak mendapatkan zakat;

1.      Orang fakir: orang yang amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya.

2.      Orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya.

3.      Pengurus zakat: orang yang diberi tugas mengumpulkan dan membagikan zakat

4.      Muallaf: orang yang baru masuk Islam.

5.      Memerdekakan budak: mencakup juga untuk melepaskan Muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir.

6.      Orang yang berhutang: orang yang berhutang karena untuk kepentingan yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya.

7.      Orang yang berjuang dijalan Allah (Sabilillah)

8.      Orang yang sedang dalam perjalanan (ibnu sabil) yang bukan maksiat mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya.[4].

Menurut sebagian Ulama menetapkan bahwa zakat fitrah itu untuk orang Islam yang fakir didasarkan pada hadits;

“cukupilah mereka pada hari ini, jangan sampai meminta-minta.” (HR Muslim dan Tirmidzi).

Hikmah dibalik diwajibkannya zakat fitrah adalah kita harus saling membantu sesama manusia sehingga mengerti masih banyak orang faqir yang terkadang tidak dapat makan dihari ini apalagi kebutuhan untuk besok sehingga kita bisa lebih bersyukur dengan keadaan ini dan memupuk tali silaturahmi dengan cara berbagi untuk sesama terlebih lagi dihari yang bahagia yaitu hari raya idul fitri. Setelah sebelumnya berpuasa untuk mengerti keadaan sederhana orang-orang yang tidak mampu dan diakhiri dengan diwajibkannya berbagi dengan mereka sehingga dapat membantu kita bersyukur dan juga mengerti kesengsaraan mereka sehingga menghilangkan kesombongan kita dan memdahkan kita untuk lebih dermawan kepada sesama.[5]


  • [1] Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid Jilid 2 (Jakarta: Dar -al-Kutub al-Islmiyah, 2010), 620.
  • [2] Rusyd, 623.
  • [3] Rusyd, 630.
  • [4] Abu Syujak, Taqrib (Jakarta: DKI (Darul kutub Islamiyah), 1999), 99.
  • [5] Rusyd, Bidayatul Mujtahid Jilid 2, 631.