Senin, 02 Agustus 2021

Cerita Pendek "Hujan, Hujami Perasaan."

 Hujan, Hujami Perasaan

Oleh : Rekan Badrus Salam

Merpati beterbangan diatas pohon, alangkah menawan dengan bulunya yang putih jatuh perlahan. Angin yang meniupnya begitu kencang, tak menyurutkan tekadnya untuk kembali pulang. Pun juga aku, seorang remaja yang hanya termangu menunggu hujan reda di samping pejalanan kota. Tiap rintik hujan yang membasahi kepala, sedikit saja mengingatkan sebuah kenangan tak terlupakan.

Angin yang bertiup perlahan-lahan seraya berbisik pada telinga menyebut nama-nama dan spontan merangkai sebutir kata-kata.

"Zahra, bungaku. Rindang pepohonan yang menaungi tatkala hujanku. Oase segar ditengah hausku. Cahaya diantara bimbangku. Mutiara diantara samudra kesedihanku. Kemarilah dan rengkuh aku. Kekasihmu yang lapar dan haus akan kasih sayang. "

Seketika selayang kenang pada kening melesat memenuhi seisi kepala. Pertemuan pertama dengan Zahra,  Bunga Melati yang mekar dihati.

Ketika itu embun pagi membasahi kedua pipi manis seorang wanita, ia sedih, entah siapakah yang tega menyakiti hati seorang bunga seindah ini. Siapa pula yang tega mengabaikan ia sendirian.

Sekejap saja hatiku tergugah untuk menenangkannya. Bulu matanya yang basah membuat setiap sendi meraung kesakitan. Sedihnya ialah sedihku, kita bagai satu anggota badan. Jika salah satunya merasa sakit maka air mata akan menetes dan spontan mulut berteriak kesakitan.

Aku menghampiri wanita yang basah kedua pipinya seraya berkata, "siapa gerangan yang tega melihat seorang merasa sedih sendirian ditengah panasnya siang? duka apa yang membuat kedua pipimu basah kuyup?"

Seketika wajah cantiknya menoleh pada diriku sambil mengusap kedua pipinya, sesekali menampakkan senyum tanda dia baik-baik saja, tetapi aku tahu dia menyimpan sedih, namun senyumannya pada saat itu benar-benar menyihir hatiku untuk tunduk padanya.

Nyaris sejak hari itu hatiku terpaku, mulutku berbusa lelah menyebut namanya, pikiranku terus berputar diantara fatamorgana wajahnya.

Seakan-akan seluruh tubuh dan ruhku berkata aku mencintainya. Nyaris berhari-hari tak lelah aku menasbihkan namanya, hatiku bergejolak seperti ombak tatkala memandang wajahnya.

Terkadang, tubuhku bergerak sendiri mengikuti tiap derap langkahnya, memandang punggungnya dan tak tahu kapan harus berhenti mengikutinya seperti seekor anak itik yang terus mengikuti induknya. Sampai-sampai sahabatku memanggilku sebagai mata-mata Cinta. Ia terheran-heran dengan sikapku yang aneh.

"Kau ini kenapa? Seperti mata-mata? Mengikuti setiap derap langkah seorang wanita? Ataukah kau ini penjahat kelamin? Haha," gurau kawanku tiap melihat tingkah anehku.

"Aku hanya mencintai seseorang. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku bagaikan daun dan dia adalah angin, yang menerbangkanku, tujuan akhirku, jalan pulangku, tapak kakiku. Hanya mencintainya."

Sahabatku pun kaget melihat tingkah anehku, ia merasa ada yang salah dengan tingkah sahabat karibnya ini. Tatapannya seolah kosong, entah pikirannya pergi kemana.

"Kau terkena guna-guna? Astagfirullah. Rasanya kau perlu di ruqyah, "ujar kawanku dengan tatapan serius.

"Tidak! Cinta bukanlah sihir. Ataupun penyakit. Cinta adalah makanan sehari-hari jiwa kita. Eksistensi kehidupan dunia tak sekedar mencari dan memenuhi hasrat terhadap materi belaka. Jiwa yang selama ini kurus kering dan kering kerontang tak dipenuhi kebutuhannya meminta untuk diisi dan diberi makan juga bukan?"

Wajah sahabatku heran sampai menggelengkan kepalanya, ia kehabisan kata-kata. Rasanya sulit sekali menasehati orang yang jatuh cinta. Cinta bukan berarti keras kepala, namun cinta adalah perasaaan indah yang tak bisa dijelaskan, tak bisa dipaksakan. Hanya orang yang mencintai yang merasakan keindahannya.

Begitulah kiranya. Pertemuan pertamaku dengannya, namun sampai saat ini aku belum berani mengungkapkan perasaanku untuknya. Ragu terus menghantuiku, bagaikan angin topan yang membuatku berputar-putar pada siklus keraguan akan pernyataan Cinta.

Aku teringat perkataan Jalaludin Rumi. Bahwa mencintai dalam diam tak akan kutemukan penolakan, tak ada orang lain yang memilikinya selain aku. Benar kata rumi, mencintai dalam diam penuh keindahan dan jutaan harapan yang tak tersampaikan. Cinta dalam diam adalah kesabaran, menunggu yang tak tentu, menanti yang tak berhenti, mencintai yang tak berharap dicintai.

Hujan masih deras, tanah-tanah menjadi basah, dedaunan dan bunga-bunga, aku rasa mereka bahagia. Hujan adalah kawan walaupun ia sering kali merintikkan kenangan. Aku masih menunggu hujan mereda, sambil menikmati udara dingin yang meresap. Sorot tatap mataku pun berpaling ketika melihat sosok dengan hijab bewarna hitam, ia ada di seberang pejalanan kota.

Ia menoleh padaku dari kejauhan, ia nampak seperti seseorang yang kucinta. Ya benar, aku tak salah. Dia adalah bunga Melati yang mekar di hati, Zahra. Senyumnya bagaikan oase di padang pasir, musafir mana  yanh tak bahagia ketika melihatnya? Sorot tatap matanya seperti sebotol anggur, sedikit saja kutatap mabuk kepalang seisi kepala. Saat melihatnya hatiku berdebar, menyambar seperti petir. Pecinta mana yang tak bahagia ketika bertemu sosok yang dicintai?

Mataku tak bisa berpaling darinya, seperti bumi yang terus mengelilingi sang Matahari. Kau lah pusat tata Surya cintaku, tempatku berthawaf. Kau gravitasi yang paling kuat diantara banyaknya galaksi. Aku benci pada mobil-mobil yang berlalu-lalang menutupi wajahmu, ia ibarat gerhana yang menutupi cahayamu. Bagiku kau begitu dekat tak bersekat pun juga kau begitu jauh

Tak tersentuh...

Layaknya siang dan malam, hidup tak melulu selalu bahagia. Pun juga dalam mencintai dalam diam. pasti ada waktu dimana duka itu tiba. Mencintai dalam diam memang Indah, tiada yang bisa memilikinya dalam khayal kita. Namun duka itu seketika datang, secepat sambaran kilat, tepat di depan mataku.

Seseorang datang menemui bunga melatiku, sembari tersenyum dan mencium kedua pipi melatiku. Ia memegang tangannya, hatiku pun bergejolak bagai ombak yang meraung menjelma tsunami. Rasanya seperti dihujam sepuluh ribu duri.  Lelaki bertubuh tinggi dengan pakaian rapi itu memberikan kotak berisi coklat pada kasihku. Ia bagai pak tani yang mencabuti lahan bungaku Membuat Taman bunga yang mekar dihatiku seketika menjadi lahan tandus gurun sahara, hampa tiada bunga maupun pepohonan yang menghiasi.

Luka terbesar bagi pecinta adalah ketika yang dikasihinya mencintai orang lain. Dan seketika aku merasa seperti debu, yang kian diabaikan sang angin. Tak ada hal lain yang diinginkan debu selain jatuh sejatuh-jatuhnya. Namun keindahan sang angin mencegahnya. Begitulah kiranya nasibku kini.

Dalam ruhku, sudah ratusan liter air membasahi mataku, jiwaku berteriak keras, meraung-raung dalam kesunyian. Hujan tak hanya membasahi seluruh kota, kini hujan telah membasahi kedua mataku. Tak ada majas ataupun kata-kata yang mampu mendeskripsikan perasaanku saat ini.

Memang begitulah konsekuensi mencintai dalam diam. Hati harus siap terhujam, penuh ketabahan, penuh keyakinan. Bahwa Cinta tak akan kemana-mana, meski kau telah menemukan sandaran bahu, aku akan tetap tegar dengan pendirianku. Mencintaimu dalam kesenyapan, kesunyian, Karena dalam diam tak kutemui penolakan. Meski hatiku kini segersang gurun sahara, kau adalah oase-oase yang menghiasinya, tak kubiarkan kau pergi dalam hati. Hujan, Guntur dan awan-awan hitam menjadi saksi bahwa Cinta tak akan pernah padam, meski tanpa kata, tanpa balas, tanpa apa-apa. Mencintai adalah kodrat tiap manusia.*

 

-teruntuk mereka yang tabah mencintai tanpa berharap kembali.