Cinta Sejati yang Terlupakan
Kita, sebagai remaja yang menuju masa
pendewasaan mulai mengenal yang dinamakan cinta. Cinta suatu lafadz yang dianggap sakral bagi sebagian orang yang menjalin rasa
suka antara satu sama lain. Banyak kisah cinta yang didambakan oleh para
remaja-remaja sekarang seperti kisah dari film titanic, romeo dan juliet bahkan
juga laila dan majnun. Rekan-rekanita yang mulai mengikuti IPNU-IPPNU juga
mungkin sudah mulai memupuk rasa cinta kepada rekan ataupun rekanita terutama
remaja-remaja yang menginjak bangku SMA. Ada yang berjuang merelakan kuota
internet untuk terus chattingan dan menelpon orang yang dicintainya, ada juga
yang terus berusaha mentraktir orang yang dicintainya supaya bisa selalu
bersama dengannya, ada juga yang memilih memendam rasa karena mengerti bahwa
cintanya mungkin ditolak. Tapi tahukah kamu cinta sejati sesungguhnya seperti
apa dan bagaimana hakikat cinta sesungguhnya?
Pernahkah kalian
berpikir bahwa ada sesosok manusia yang sangat mengkhawatirkanmu melebihi ibumu.
Sungguh dia sangat mengkhawatirkanmu melebihi kedua orang tuamu, bahkan dia
rela tidak makan tidak minum demi dirimu selamat. Iya dialah Rasulullah
Muhammad SAW. cinta sejati yang selalu kita lupakan. Beliau terus bersujud
terus menerus sampai menangis demi kita demi keselamatankan kita. Beliau tanpa
henti memintakan ampun dan keselamatan bagi umatnya. Berhari-hari lamanya
beliau tak kunjung keluar dari rumahnya sampai didatangi oleh
shahabat-shahabatnya dia tetap khusu’ dalam doa dan sujudnya untuk memintakan
ampun kepada Tuhan atas dosa-dosa umatnya. Sampai ketika Jibril datang
memberikan kabar gembira bahwa umatnya semua akan selamat dan tidak ada yang
abadi dineraka beliau akhirnya bangun dari sujudnya. Suatu pagi menyelimuti
masjid Rasulullah menjadi seorang Imam, saat ruku’ dan sujud terdengar suara
seperti goresan kayu yang patah terdengar dari pengimaman. Sehabis Sholat Umar
dan shahabat lainnya berkumpul pada Rasulullah dan bertanya kenapa anda tadi
wahai Nabi Allah? Rasulullah terus melihatkan didalam bajunya ada batu-batu
yang dijadikan rantai untuk diikat keperut Rasulullah shahabat pun menangis
“sungguh jika kamu kelaparan kami siap menanggung makananmu ya Rasulullah.”
“jangan begitu saya begini untuk umatku supaya mereka tidak kelaparan lebih-lebih
kelaparan diakhirat.” Sungguh begitu cintanya Rasulullah sampai beliau rela
puasa dan kelaparan sampai perut dan kulit menempel demi kita nanti selamat
diakhirat kelak.[1]
Tidak ada yang
lebih indah selain dapat menjadi bagian dari umat Rasulullah bahkan jika kita
bersholawat pada nabi maka Allah akan bersholawat kepadanya 10 kali dan
menghapus dosanya sepuluh kali, dan diangkat derajatnya sepuluh untuknya. (HR.
Nasai No. 1297 Maktabah Al-Maarif. Shahih) terlihat jelas bahwa Allah sangat
memulyakan Rasulullah dan terbukti bahwa beliau adalah benar-benar Rasul
pembawa kebenaran diakhir zaman. Mari kita berpikir sejenak dengan kehebatan
nabi yang bisa menaklukan jazirah arab tetapi beliau tidak memeras rakyatnya
dan ingin menang sendiri. Malah beliau mengajarkan kesederhanaan dan juga
berzakat kepada yang miskin dan menolong kepada yang lemah. Nabi Muhammad tidak
pernah ingin untuk dihormati lebih-lebih mengaku dirinya sebagai Tuhan. Beliau
hanya mengaku bahwa Tuhan itu satu dan sembahlah Tuhan pencipta langit dan bumi
dialah penguasa alam semesta ini yaitu Allah SWT.
Adakah orang yang
lebih mulia dari Rasulullah dengan membawa Islam, berdiri 1400 tahun yang lalu.
Apakah orang yang berbohong mampu perkataannya dan perlakuannya dipercaya
sampai 1400 tahun. Perlakuannya perkataannya menjadi hadits-hadits yang terus
dilestarikan kitab yang dibawanya sudah dijaga keaslian lafadz dan bahasanya
lebih dari 1400 tahun dan terus dibaca dan dihapalkan sampai sekarang. Disetiap
zaman selalu ada orang yang hapal kitab Al-Qur’an dan hadits-haditsnya. Apakah
mungkin orang berbohong dapat dipercayai lebih dari 1400 Tahun. Dan wahyu yang
dibawanya yang menjadi kitab agama Islam keaslianya bertahan 1400 Tahun.
Sungguh begitu terlihat jelas kebenaran ajaran Rasulullah. Beliau saat
diakhirat ketika para nabi terdahulu berebut untuk berdekatan dengannya karena
dasyatnya hari kebangkitan beliau mengatakan bahwa Syafaatnya adalah untuk
Umatku. Begitu cintanya beliau terhadap kita tapi kita bahkan lupa untuk
bersholawat kepadanya. Beliau menangisi kita karena kemaksiatan kita tetapi
kita sibuk dengan mencintai orang yang belum tentu mencintai kita betapa
teganya kita terhadap beliau. Maka jika kalian sudah mengerti bahwa cinta
sejati sesungguhnya tidak mengenal ruang dan waktu itulah cinta Rasulullah
kepada umatnya, sebuah cinta sejati yang selalu kita lupakan.[2]
[2] Umar bin hasan, Durrotun Nasihin (Beirut: Maktabah al-Islamiyah, 1988), 187.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar