Rabu, 28 April 2021

Artikel Nuzulul Qur'an

 Nuzulul Qur'an

    Lafadz nuzulul Secara Bahasa berarti “menetap di satu tempat” atau “turun dari tempat yang tinggi” kata kerjanya ialah nazala yang berarti “dia telah turun” atau “dia menjadi tetamu” . secara istilah yaitu suatu peristiwa turunya wahtyu allah (AL-QUR’AN) melalui malaikat jibril kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur. Ada dua bentuk mengapa Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur, pertama untuk memantapkan dan meneguhkan hati Nabi Muhammad, karena setiap pristiwa yang beliau alami pastinya disusul dengan turunya ayat-ayat Al-Qur’an. Kedua agar Al-Qur’an mudah untuk dihafal.

    Menurut Muhammad Baqir Hakim, terdapat bukti kebesaran Al-Qur’an yang dapat kita ketahui turunya Al-Qur’an secara berangsur-angsur, pertama, selama perjalanan dakwah Rasulullah SAW, melaui proses dan cobaan yang begitu berat. Bagi manusia biasa mustahil untuk melaukanya dan tidak mampu untuk menjalaninya. Tetapi Al-Qur’an dapat mengiringi perjalanan beliau, baik dalam keadaan lemah maupun kuat, sulit maupun dalam keadaan lapang, dan dalam saat masa-masa memperoleh kemenangan maupun kekalahan. Kedua, Al-Quran diturunkan secara bertahap kepada Rasulullah SAW. memberikan semangat dan membantu Rasulullah SAW. secara batiniah bagi keberlanjutan proses dakwah Rasulullah SAW. Allah berfirman dalam surat Al furqan ayat 32 yang artinyan “berkatalah orang orang kafir “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan pada sekali turun saja? Demikian supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacanya secara tertil (teratur dan benar). Ketiga, Risalah islam mengalami berbagai keraguan, saling tuduh, keadaan politik yang tak menentu dan cobaan lainya dari kaum musyrik. Untuk menghadapi semua itu Rasulullah memerlukan Al-Qur’an dan tidak maksimal apabila Al-Qur’an tidak diturunkan secara berangsur-angsur tahapan tertentu secara terus-menerus dan berkelanjutan. Firman Allah dalam QS.Al-Furqan ayat 33 yang artinya “Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.” 

    Tahapan turunya Al-Qur-an dari fase-fase disampaikan kitab suci Al-Qur-an hingga sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Tahap pertama, Al-Qur,an diturunkan ditempatkan ke lauh Mahfud. Lauh Mahfud adalah tempat yang tidak diketahui oleh manusia secara pasti Allah swt berfirman pada surat Al-Buruj ayat 21-22 “bahkan (bahkan yang dustakan mereka) itu yaitu Al-qur’an yang mulia yang teersimpan di lauh Mahfud. Tahap kedua, Al-Qur’an singgah dari lauh Mahfud ke Baitul Izzah di langit dunia.Sehingga setelah berada di lauh Mahfud diletakan oleh Allah di Baitul Izzah atau langit terdekat oleh bumi. Tahap Ketiga, setelah dari Baitul Izzah langsung ke Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril.

    Al-Qur,an diturunkan kepada Rasulullah ketika sedang berkhalwat tepat pada malam senin 17 ramadhan, tahun 41 dari kelahiran Nabi Muhammad SAW.(6 agustus 610 M). Sesuai dengan kemulyaan dan kebenaran Al-Qur’an. Allah menjadikan awal turunya Al-Qur’an bertepatan pada malam Lailatul Qadar yaitu suatu malam yang tinggi qadarnya.

    Menurut hadist Bukhary dari Aisyah ra. Berkata: “menurut wahyu yang diterima rasulullah ialah mimpi yang benar. Beliau melihat sinaran subuh dan persis apa yang diimpika Rasulullah” stelah itu beliau mulai gemar  berkhalwat di gua hira, beribadah beberapa malam. Sebelum beliau pulang ke keluarganya untuk mengambil bekal. Sesudah beberapa hari Rasulullah beribada di gua hira Rasulullah kembali kepada Khadijah untuk mengambil makanan untuk beberapa hari. Belaiau terus menerus melakukannya sampai datanglah haq (kebenaran). Malaikat datang kepada beliau lalu berkata “ iqra (bacalah) “ Nabi menjawab saya tidak pandai menjawab “Nabi Menerangkananya”. Malaikat Jibril mendengar jawaban itu, malaikat pun memeluknya sampai kepayahan karna saking kerasnya pelukan itu. Kemudian dilepaskan pelukan itu oleh malaikat Jibril serta disuruh lagi untuk membaca. Nabi pun menjawab sama seperti apa yang pertama. Sesudah itu malikat berkata Surat Al-Alaq ayat 1-5 . sesudah itu rasulullah pulang dengan keadaan badan gemetar karna ketakutan. Nabi menjumpai istrinya yaitu Khadijah dan berkata: “ selimuti aku, selimuti aku” setelang rasulullah dalam keadaan tenang beliau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Khadijah, seraya berkata : saya khawatir dengan diriku ini” maka Khadijah menjawab : “tidak sekali-kali tidak, demi allah, Allah tidak sekali kali mengabaikan engkau. Engkau seseorang yangt selalu memikul beban orang, memberikan sesuatu kepada orang yang tidak mampu, memuliakan dan menjamu tamu yang datang dan memberikan bantuan bantuan terhadap bencana bencna yang telah menimpa manusia”.

    Turunya Al-Qur’an merupakan pristiwa besar sekaligus menyatakan kedudukanya ba penghuni langit dan bumi beserta segala isinya. Sudah barang tentu. Dengan segala kandungan ayat secara tersirat dan tersurat pesan-pesan mulia yang membawa petunjuk dan kabar gembira, bahkan jika kita telaah lebih jauh lagi. Dalam sejumlah ayat ditegaskan, turunya pesan membawa pesan bagi umat manusia mengenai tiga hal: pertama, ajararan tauhid yang mendeklarasikan allah SWT sebagai satu-satunya tuhan yang harus disembah dan tidak boleh disejutukan dengan apapun; kedua Al-Qur’an merupakan pedoman hidup, petunjuk, dan pembawa keselamatan yang harus dipegang tegu oleh manusia: ketiga, Al-Qur’an sebgai sumber dali segala sumber hukum (syariat). Sangat kaya akan ilmu pengetahuan, serta terpelihara karunianya hingga ahir zaman. Oleh karna itu Al Qur’an bukan sekedar kalam Allah (kalamullah), yang tersusun dalam bentuk rangkaian huruf, kata-kata dan kalimat semata-mata sebagaimana dikenal dengan mushaf. Tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan turunya Al-Qur’an adalah ia menjadi kitab suci pembawa petunjuk, pembawa kabar gembira, sumber ilmu pengetahuan, jalan menuju keselamatan bagi manusia di dunia dan ahirat, Banyak pesan dan hikmah berharga yang diperoleh pembaca Al-Qur’an selama bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Setiap muslim diwajibkan untuk selalu membaca, memahami, dan menggali makna yang terkandung di dalam Al-Qur-an.



Penulis : Rekan Syarofi Syaifulloh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar