Tuhan yang Maha Baik oleh Angin
Oleh: Dhelcha (Rekanita Adhelia Putri)
Malam dengan segala kegelapannya memberi keharusan yang tak pernah bisa terelak. Kala mata-mata mereka terpejam dengan erat pun jiwa mereka melayang di atas mimpi yang membayang, mataku masih saja terbuka dengan jiwa yang berjalan di atas pikiran-pikiran yang melelahkan. Tangis kembali tumpah; mencurahkan selaksa kesesatan derita yang membanjiri dada.
"Tuhan, lantas luka mana lagi yang ingin Kau curahkan pada hamba-Mu ini? Pun, derita mana lagi yang ingin Kau gunakan sebagai penguji imanku yang lemah? Aku lelah, Tuhan. Sungguh!" Bisik-bisik doa itulah yang tiap kali terukir dari bibir ranumku dalam kekosongan malam. Bertanya-tanya kepada Tuhan mengenai kesengsaran yang entah kapan akan berakhir kebahagiaan, sekaligus menuntut keadilan akan tangis yang senantiasa jatuh dalam kegelapan.
Kemudian, sayup-sayup kudengar angin berbisik, "Tuhan itu sangat tahu pada hamba-Nya. Termasuk dirimu. Tak usah kau katakan bahwa kau lelah, Dia tahu. Tak usah kau ceritakan masalahmu, Dia mengerti. Tuhanmu juga Maha Adil lagi Maha Pemberi Keadilan. Tuhanmu itu adalah Yang Maha Baik lagi Maha Sempurna. Percayalah pada garis waktu yang telah Dia tetapkan."
Sejenak, aku terdiam. Lalu bertanya, "Jika benar Dia adil, lantas mengapa Dia memberiku duka yang tiada habisnya? Jika benar Dia itu Yang Maha Baik lagi Maha Sempurna, lantas mengapa hanya aku yang Dia beri selaksa pilu?"
"Hei, Gadis Manis. Sadarkah kau dengan ucapanmu itu?! Sekali lagi, sungguh! Kau telah kembali meragukan Tuhanmu." Begitulah kata angin yang tengah berembus malam ini, menebarkan kedinginan di antara keheningan.
Lagi-lagi, aku terdiam. Pikiranku mulai goyah dengan segala perkataan mengenai Tuhan. Begitu pula dengan hatiku yang mulai dipenuhi kesesatan sebab ujian yang tiada habisnya. Tak lama, kudengar kembali angin berkata, "Sekali lagi kukatakan padamu, Gadis Manis. Bahwa sesungguhnya Tuhanmu tak pernah ingkar pada janji-Nya. Dia memberimu kesengsaraan, guna menghapus dosa-dosa yang telah kau perbuat sembari mengujimu akan derajat yang Dia berikan. Dia tidak memberimu bahagia seperti yang lainnya sebab Dia begitu mencintaimu. Dia ingin kau selalu ada di dekat-Nya dengan terus menyembah dan beribadah kepada-Nya. Dia ingin kau terus berdoa hingga kau lupa mengenai dunia. Ketahuilah, Manis. Tuhanmu itu tak ingin kau jauh darinya. Oleh karena itu, percayalah pada apa-apa yang telah Dia tetapkan. Sekali lagi, sungguh! Tuhanmu itu Maha Baik lagi Maha Sempurna. Sekarang, pulanglah. Kembalilah ke jalan di mana seharusnya kau berjalan. Kau telah tersesat begitu jauh, hingga kau lupa menunaikan sujud sepertiga malammu."
Dan, sekali lagi sungguh! Aku seperti tertampar oleh apa-apa yang diucapkan angin malam ini. Ah, payah! Bagaimana bisa aku meragukan Tuhanku? Dia yang memberiku kekuatan pun kehidupan. Dia yang begitu menyayangiku, melebihi kedua orang tuaku. Namun, aku dengan lalai lupa pada-Nya pun meragukan keagungan-Nya. Ah, dasar payah!
-Tengah Malam di Bumi Majapahit, 2021

Tidak ada komentar:
Posting Komentar