Senin, 11 April 2022

Semarakkan Ramadhan, PAC IPNU IPPNU Gelar Safari Ramadhan



Safari ramadan merupakan salah satu agenda tahunan yang diselenggarakan oleh PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Sooko di bulan ramadan. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, tahun ini pun PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Sooko kembali menyelenggarakan safari ramadan. Untuk tahun ini, safari ramadan dilaksanakan hanya satu kali dan baru saja terlaksana pada Minggu, 10 April 2022 pukul 15.30 WIB di Masjid Tiban, Daleman Sooko.

Pelaksanaan safari ramadan ini diikuti oleh seluruh rekan dan rekanita PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Sooko. Untuk pelaksanaan acara ini, diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan istigasah yang dipimpin oleh Rekan Ahmad Ibnu Mas'ud. Acara berikutnya yaitu sambutan dari ta'mir masjid sekaligus ketua MWC NU Kecamatan Sooko. Acara berikutnya yaitu pemberian mauizah hasanah oleh K.H Zainal Masud dan diakhiri dengan buka bersama.

Pada saat pemberian mauizah hasanah, K.H Zainal Masud menyampaikan banyak hal, salah satu isi dari mauizah hasanah yang disampaikan beliau adalah aqidah ahluh sunnah yang terbagi menjadi 2, salah satunya ialah aqidah Ilahiyah yang terdapat sifat wajib, mustahil, dan jaiz Allah Swt.

Acara safari ramadan kali ini juga mendapatkan antusias yang cukup baik dari rekan dan rekanita. Namun, ada salah satu rekanita yang mengatakan bahwa acara sudah cukup baik, hanya saja kurang yang menghadiri. Hal ini dapat dilihat dari kutipan, "Untuk acara sudah baik, hanya saja jumlah massanya kurang karena masjid yang ditempati juga cukup besar. Mungkin, yang hadir bisa ditambah."


 

Mojokerto, 11 April 2022

Editor     : Dep. Jarkom & Pers
Pewarta : Rekanita Adhelia

Sabtu, 09 Oktober 2021

Cerita Mini "Ketika Rasa Bersua"

 Ketika Rasa Bersua

Oleh : Rekanita Adhelia Putri Chandra P. (Dhelcha)


Beberapa kali kerap kita bicara mengenai rasa yang entah sejak kapan memenuhi rongga dada. Beberapa kali pula kerap kau berbincang mengenai apa-apa yang seharusnya kupanjatkan dalam doa. Dan, beberapa kali itulah harapan-harapan untuk bersamamu tumbuh. Bahkan, pada tengah malam, saat di mana mata-mata mereka terpejam, aku masih saja terjaga sembari sesekali berdiskusi dengan Tuhanku ─ membicarakanmu. Padahal, sebelumnya kau sudah berkata, “Tidak ada rasa apa pun yang kusimpan untukmu.”

“Ah, semesta memang pelik!” Begitulah ucapku setiap kali aku mengingat namamu, membayang senyummu, pun merindumu.

Seperti malam ini. Sepi yang menyapa kembali membawaku pada angan-angan mengenaimu. Sesekali aku mengingat bagaimana dekatnya kita beberapa tempo lalu. Eh, tunggu. Kita yang dekat atau hanya aku yang menganggap kita dekat? Ah, entahlah. Aku tak mengerti. Namun, yang jelas aku ingat, malam itu kau berkata, “Berdoa saja yang terbaik.”

Hahaha! Aku kembali mengulas senyum mirisku. Bahkan, aku berharap hanya karena satu kalimat yang mungkin terucap hanya untuk menjadi penenang. Bodoh memang, tapi aku tak mampu mengelak bahwa ada rasa yang menjalar dalam rongga dada tiap kali mengingat percakapan kita malam itu ─ malam di mana aku bertanya banyak hal mengenai dirimu.

Ah, sial! Ketika rasa bersua, semua seolah berubah. Apa-apa yang kupandang selalu mengingatkanku padamu. Apa-apa yang kudengar selalu membawakan rindu yang begitu dalam untukmu. Bahkan, apa-apa yang menjadi bayang-bayangku pada ruang kosong itu, selalu saja tertuju padamu. Padahal, logikaku sudah mengetahui bahwa kau tak menyukai itu. Namun, sudahlah. Tak ada gunanya pula merangkai aksara panjang-panjang bila kau tak mengerti apa maksud yang sebenarnya ingin kuutarakan. Jadi, cukup sekian saja cerita yang terangkai dari kisah kita malam itu. Maaf, aku keliru. Maksudku, kisah dari rasa untukmu yang bersua dalam dadaku, menyentuh kalbu, menebar rindu, mengharap balasan yang ... ah sudahlah!

Minggu, 29 Agustus 2021

Cerita Mini "Tuhan yang Maha Baik oleh Angin"

 

Tuhan yang Maha Baik oleh Angin

Oleh: Dhelcha (Rekanita Adhelia Putri)


Malam dengan segala kegelapannya memberi keharusan yang tak pernah bisa terelak. Kala mata-mata mereka terpejam dengan erat pun jiwa mereka melayang di atas mimpi yang membayang, mataku masih saja terbuka dengan jiwa yang berjalan di atas pikiran-pikiran yang melelahkan. Tangis kembali tumpah; mencurahkan selaksa kesesatan derita yang membanjiri dada. 


"Tuhan, lantas luka mana lagi yang ingin Kau curahkan pada hamba-Mu ini? Pun, derita mana lagi yang ingin Kau gunakan sebagai penguji imanku yang lemah? Aku lelah, Tuhan. Sungguh!" Bisik-bisik doa itulah yang tiap kali terukir dari bibir ranumku dalam kekosongan malam. Bertanya-tanya kepada Tuhan mengenai kesengsaran yang entah kapan akan berakhir kebahagiaan, sekaligus menuntut keadilan akan tangis yang senantiasa jatuh dalam kegelapan.


Kemudian, sayup-sayup kudengar angin berbisik, "Tuhan itu sangat tahu pada hamba-Nya. Termasuk dirimu. Tak usah kau katakan bahwa kau lelah, Dia tahu. Tak usah kau ceritakan masalahmu, Dia mengerti. Tuhanmu juga Maha Adil lagi Maha Pemberi Keadilan. Tuhanmu itu adalah Yang Maha Baik lagi Maha Sempurna. Percayalah pada garis waktu yang telah Dia tetapkan."


Sejenak, aku terdiam. Lalu bertanya, "Jika benar Dia adil, lantas mengapa Dia memberiku duka yang tiada habisnya? Jika benar Dia itu Yang Maha Baik lagi Maha Sempurna, lantas mengapa hanya aku yang Dia beri selaksa pilu?"


"Hei, Gadis Manis. Sadarkah kau dengan ucapanmu itu?! Sekali lagi, sungguh! Kau telah kembali meragukan Tuhanmu." Begitulah kata angin yang tengah berembus malam ini, menebarkan kedinginan di antara keheningan. 


Lagi-lagi, aku terdiam. Pikiranku mulai goyah dengan segala perkataan mengenai Tuhan. Begitu pula dengan hatiku yang mulai dipenuhi kesesatan sebab ujian yang tiada habisnya. Tak lama, kudengar kembali angin berkata, "Sekali lagi kukatakan padamu, Gadis Manis. Bahwa sesungguhnya Tuhanmu tak pernah ingkar pada janji-Nya. Dia memberimu kesengsaraan, guna menghapus dosa-dosa yang telah kau perbuat sembari mengujimu akan derajat yang Dia berikan. Dia tidak memberimu bahagia seperti yang lainnya sebab Dia begitu mencintaimu. Dia ingin kau selalu ada di dekat-Nya dengan terus menyembah dan beribadah kepada-Nya. Dia ingin kau terus berdoa hingga kau lupa mengenai dunia. Ketahuilah, Manis. Tuhanmu itu tak ingin kau jauh darinya. Oleh karena itu, percayalah pada apa-apa yang telah Dia tetapkan. Sekali lagi, sungguh! Tuhanmu itu Maha Baik lagi Maha Sempurna. Sekarang, pulanglah. Kembalilah ke jalan di mana seharusnya kau berjalan. Kau telah tersesat begitu jauh, hingga kau lupa menunaikan sujud sepertiga malammu."


Dan, sekali lagi sungguh! Aku seperti tertampar oleh apa-apa yang diucapkan angin malam ini. Ah, payah! Bagaimana bisa aku meragukan Tuhanku? Dia yang memberiku kekuatan pun kehidupan. Dia yang begitu menyayangiku, melebihi kedua orang tuaku. Namun, aku dengan lalai lupa pada-Nya pun meragukan keagungan-Nya. Ah, dasar payah!


-Tengah Malam di Bumi Majapahit, 2021

Senin, 02 Agustus 2021

Cerita Pendek "Hujan, Hujami Perasaan."

 Hujan, Hujami Perasaan

Oleh : Rekan Badrus Salam

Merpati beterbangan diatas pohon, alangkah menawan dengan bulunya yang putih jatuh perlahan. Angin yang meniupnya begitu kencang, tak menyurutkan tekadnya untuk kembali pulang. Pun juga aku, seorang remaja yang hanya termangu menunggu hujan reda di samping pejalanan kota. Tiap rintik hujan yang membasahi kepala, sedikit saja mengingatkan sebuah kenangan tak terlupakan.

Angin yang bertiup perlahan-lahan seraya berbisik pada telinga menyebut nama-nama dan spontan merangkai sebutir kata-kata.

"Zahra, bungaku. Rindang pepohonan yang menaungi tatkala hujanku. Oase segar ditengah hausku. Cahaya diantara bimbangku. Mutiara diantara samudra kesedihanku. Kemarilah dan rengkuh aku. Kekasihmu yang lapar dan haus akan kasih sayang. "

Seketika selayang kenang pada kening melesat memenuhi seisi kepala. Pertemuan pertama dengan Zahra,  Bunga Melati yang mekar dihati.

Ketika itu embun pagi membasahi kedua pipi manis seorang wanita, ia sedih, entah siapakah yang tega menyakiti hati seorang bunga seindah ini. Siapa pula yang tega mengabaikan ia sendirian.

Sekejap saja hatiku tergugah untuk menenangkannya. Bulu matanya yang basah membuat setiap sendi meraung kesakitan. Sedihnya ialah sedihku, kita bagai satu anggota badan. Jika salah satunya merasa sakit maka air mata akan menetes dan spontan mulut berteriak kesakitan.

Aku menghampiri wanita yang basah kedua pipinya seraya berkata, "siapa gerangan yang tega melihat seorang merasa sedih sendirian ditengah panasnya siang? duka apa yang membuat kedua pipimu basah kuyup?"

Seketika wajah cantiknya menoleh pada diriku sambil mengusap kedua pipinya, sesekali menampakkan senyum tanda dia baik-baik saja, tetapi aku tahu dia menyimpan sedih, namun senyumannya pada saat itu benar-benar menyihir hatiku untuk tunduk padanya.

Nyaris sejak hari itu hatiku terpaku, mulutku berbusa lelah menyebut namanya, pikiranku terus berputar diantara fatamorgana wajahnya.

Seakan-akan seluruh tubuh dan ruhku berkata aku mencintainya. Nyaris berhari-hari tak lelah aku menasbihkan namanya, hatiku bergejolak seperti ombak tatkala memandang wajahnya.

Terkadang, tubuhku bergerak sendiri mengikuti tiap derap langkahnya, memandang punggungnya dan tak tahu kapan harus berhenti mengikutinya seperti seekor anak itik yang terus mengikuti induknya. Sampai-sampai sahabatku memanggilku sebagai mata-mata Cinta. Ia terheran-heran dengan sikapku yang aneh.

"Kau ini kenapa? Seperti mata-mata? Mengikuti setiap derap langkah seorang wanita? Ataukah kau ini penjahat kelamin? Haha," gurau kawanku tiap melihat tingkah anehku.

"Aku hanya mencintai seseorang. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku bagaikan daun dan dia adalah angin, yang menerbangkanku, tujuan akhirku, jalan pulangku, tapak kakiku. Hanya mencintainya."

Sahabatku pun kaget melihat tingkah anehku, ia merasa ada yang salah dengan tingkah sahabat karibnya ini. Tatapannya seolah kosong, entah pikirannya pergi kemana.

"Kau terkena guna-guna? Astagfirullah. Rasanya kau perlu di ruqyah, "ujar kawanku dengan tatapan serius.

"Tidak! Cinta bukanlah sihir. Ataupun penyakit. Cinta adalah makanan sehari-hari jiwa kita. Eksistensi kehidupan dunia tak sekedar mencari dan memenuhi hasrat terhadap materi belaka. Jiwa yang selama ini kurus kering dan kering kerontang tak dipenuhi kebutuhannya meminta untuk diisi dan diberi makan juga bukan?"

Wajah sahabatku heran sampai menggelengkan kepalanya, ia kehabisan kata-kata. Rasanya sulit sekali menasehati orang yang jatuh cinta. Cinta bukan berarti keras kepala, namun cinta adalah perasaaan indah yang tak bisa dijelaskan, tak bisa dipaksakan. Hanya orang yang mencintai yang merasakan keindahannya.

Begitulah kiranya. Pertemuan pertamaku dengannya, namun sampai saat ini aku belum berani mengungkapkan perasaanku untuknya. Ragu terus menghantuiku, bagaikan angin topan yang membuatku berputar-putar pada siklus keraguan akan pernyataan Cinta.

Aku teringat perkataan Jalaludin Rumi. Bahwa mencintai dalam diam tak akan kutemukan penolakan, tak ada orang lain yang memilikinya selain aku. Benar kata rumi, mencintai dalam diam penuh keindahan dan jutaan harapan yang tak tersampaikan. Cinta dalam diam adalah kesabaran, menunggu yang tak tentu, menanti yang tak berhenti, mencintai yang tak berharap dicintai.

Hujan masih deras, tanah-tanah menjadi basah, dedaunan dan bunga-bunga, aku rasa mereka bahagia. Hujan adalah kawan walaupun ia sering kali merintikkan kenangan. Aku masih menunggu hujan mereda, sambil menikmati udara dingin yang meresap. Sorot tatap mataku pun berpaling ketika melihat sosok dengan hijab bewarna hitam, ia ada di seberang pejalanan kota.

Ia menoleh padaku dari kejauhan, ia nampak seperti seseorang yang kucinta. Ya benar, aku tak salah. Dia adalah bunga Melati yang mekar di hati, Zahra. Senyumnya bagaikan oase di padang pasir, musafir mana  yanh tak bahagia ketika melihatnya? Sorot tatap matanya seperti sebotol anggur, sedikit saja kutatap mabuk kepalang seisi kepala. Saat melihatnya hatiku berdebar, menyambar seperti petir. Pecinta mana yang tak bahagia ketika bertemu sosok yang dicintai?

Mataku tak bisa berpaling darinya, seperti bumi yang terus mengelilingi sang Matahari. Kau lah pusat tata Surya cintaku, tempatku berthawaf. Kau gravitasi yang paling kuat diantara banyaknya galaksi. Aku benci pada mobil-mobil yang berlalu-lalang menutupi wajahmu, ia ibarat gerhana yang menutupi cahayamu. Bagiku kau begitu dekat tak bersekat pun juga kau begitu jauh

Tak tersentuh...

Layaknya siang dan malam, hidup tak melulu selalu bahagia. Pun juga dalam mencintai dalam diam. pasti ada waktu dimana duka itu tiba. Mencintai dalam diam memang Indah, tiada yang bisa memilikinya dalam khayal kita. Namun duka itu seketika datang, secepat sambaran kilat, tepat di depan mataku.

Seseorang datang menemui bunga melatiku, sembari tersenyum dan mencium kedua pipi melatiku. Ia memegang tangannya, hatiku pun bergejolak bagai ombak yang meraung menjelma tsunami. Rasanya seperti dihujam sepuluh ribu duri.  Lelaki bertubuh tinggi dengan pakaian rapi itu memberikan kotak berisi coklat pada kasihku. Ia bagai pak tani yang mencabuti lahan bungaku Membuat Taman bunga yang mekar dihatiku seketika menjadi lahan tandus gurun sahara, hampa tiada bunga maupun pepohonan yang menghiasi.

Luka terbesar bagi pecinta adalah ketika yang dikasihinya mencintai orang lain. Dan seketika aku merasa seperti debu, yang kian diabaikan sang angin. Tak ada hal lain yang diinginkan debu selain jatuh sejatuh-jatuhnya. Namun keindahan sang angin mencegahnya. Begitulah kiranya nasibku kini.

Dalam ruhku, sudah ratusan liter air membasahi mataku, jiwaku berteriak keras, meraung-raung dalam kesunyian. Hujan tak hanya membasahi seluruh kota, kini hujan telah membasahi kedua mataku. Tak ada majas ataupun kata-kata yang mampu mendeskripsikan perasaanku saat ini.

Memang begitulah konsekuensi mencintai dalam diam. Hati harus siap terhujam, penuh ketabahan, penuh keyakinan. Bahwa Cinta tak akan kemana-mana, meski kau telah menemukan sandaran bahu, aku akan tetap tegar dengan pendirianku. Mencintaimu dalam kesenyapan, kesunyian, Karena dalam diam tak kutemui penolakan. Meski hatiku kini segersang gurun sahara, kau adalah oase-oase yang menghiasinya, tak kubiarkan kau pergi dalam hati. Hujan, Guntur dan awan-awan hitam menjadi saksi bahwa Cinta tak akan pernah padam, meski tanpa kata, tanpa balas, tanpa apa-apa. Mencintai adalah kodrat tiap manusia.*

 

-teruntuk mereka yang tabah mencintai tanpa berharap kembali.

Selasa, 13 Juli 2021

Di Balik Bakiak Pak Kiai

Oleh: Nuriyah Rahmawati
Oleh: Nuriyah Rahmawati


Malam larut, tapi tekadnya tak surut

Kantuk mengutuk, tapi semangat enggan melekuk

Denting suara membelah sunyi

Bakiak Pak Kiai menembus sepi

Mereka menunduk, lalu berebut membenahi bakiak kesayangan

 

Di hadapan dampar

Bercengkrama dengan pena dan utawi iki iku

Mata memaksa untuk terpejam

Namun hati merayu untuk melawan

 

Pak Kiai Dawuh tentang ini dan itu

Mereka masih melongo

Lugu dan bodoh

Lalu Pak Kiai berkata, "Bukan tentang cepat dalam memahami ilmu, tapi dalam proses panjang itulah gusti Allah turunkan ridho"

 

Mereka menunduk, hatinya mengaharu

Suara itu mengalir di nadi, merebah di dada

Ridho Allah dikejar tanpa letih, ridho Kiai diburunya tanpa henti

Yang mungkin bersembunyi di balik bakiak tua ini

 

Ruang renung, 5 Juli 2021

Kamis, 17 Juni 2021

Rilis Agenda "Merajut Silaturahmi, Merawat Tradisi, Ngalap Syafa’at e Kanjeng Nabi"

 


Semakin berkembangnya tekonologi tidak membuat rekan-rekanita IPNU IPPNU Ranting Wringinrejo menghilangkan Tradisi Nahdlatul Ulama’ yakni dengan Pembacaan Sholawat Nabi atau yang dikenal dengan diba’an. Tradisi diba’an tersebut dilaksanakan pada hari Minggu, 13 Juni 2021 yang bertempat di Musolla Al-Hikmah Dsn. Wringinrejo Ds. Wringinrejo. Kegiatan tersebut telah dilaksanakan pukul 15.00 WIB setelah sholat ashar yang dihadiri oleh rekan-rekanita ranting IPNU IPPNU Wringinrejo serta pengurus PAC IPNU IPPNU Sooko. Acara tersebut telah dibuka oleh rekan Riki sebagai Master Of Ceremony  dan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci alquran yang dibawakan oleh Rekan hafidz. Setelah pembacaan ayat suci alquran dilanjut dengan Pembacaan diba’ barzanji. Pembacaannya pun dilakukan secara bergilir oleh rekan-rekanita. Setelah sampai pada fatazzal, dan puncaknya yakni Mahallul qiyam, pembacaan sholawat nabipun dipandu oleh grup albanjari ranting Wringinrejo, yang dilakukan dengan khusyu’ dan khidmad. Setelah pembacaan sholawat nabi sudah selesai dititup dengan doa yang dibacakan oleh rekan alfan. Akhir dari acara tersebut yakni diakhiri dengan ramah tamah serta bincang asa oleh rekan-rekanita,

Inti dari inti kegiatan tersebut yakni untuk mempererat tali silaturahmi dan melestarikan tradisi dengan cara pembacaan sholawat nabi, supoyo oleh barokah e lan syafa’ate kanjeng nabi. :Tetap Ngurip-Nguripi NU dengan melestarikan peninggalan ulama’-ulama’ NU, Nasihat Ulama dipegang dan selalu di ingat, agar menjadi NU yang lebih kuat. Dan niat untuk berkhidmah!


Pewarta : Rekanita Anniza Nur Pratiwi

Sabtu, 12 Juni 2021

Puisi "Rintihan Budak Nafsu"

 

“RINTIHAN BUDAK NAFSU”

Oleh : Rekanita Mufidah Nazilatul Habibah

 

Sepenggal mentari bersinar hangat

Kusingkap mata malu menatap

Berdiri di hadapan tuan,

Hamba Sang Mudabbir Alam

Degup kalbu menjebak kebisuan lisan

“Aku hanyalah si budak sahaya.

Ampunilah segala nestapa pikiran, hati dan jiwa.

Segores cinta terbuai oleh nafsu.

Merapuhkan jiwa kokoh sepasang qalbu.”

Laksana bunga-bunga memekar pedih.

Berguguranlah ia bahagia.

 

Surabaya, 14 Juli 2019

(Antologi Puisi “Menapaki Ranah Syukur”)[1]

 




[1] Nyimas Pundi Baladaya, dkk., Menapaki Ranah Syukur, (Malang: CV. Azizah Publishing), 2019.