Hujan, Hujami Perasaan
Oleh : Rekan Badrus Salam
Merpati beterbangan diatas pohon, alangkah menawan dengan
bulunya yang putih jatuh perlahan. Angin yang meniupnya begitu kencang, tak
menyurutkan tekadnya untuk kembali pulang. Pun juga aku, seorang remaja yang
hanya termangu menunggu hujan reda di samping pejalanan kota. Tiap rintik hujan
yang membasahi kepala, sedikit saja mengingatkan sebuah kenangan tak
terlupakan.
Angin yang bertiup perlahan-lahan seraya berbisik pada
telinga menyebut nama-nama dan spontan merangkai sebutir kata-kata.
"Zahra, bungaku. Rindang pepohonan yang menaungi
tatkala hujanku. Oase segar ditengah hausku. Cahaya diantara bimbangku. Mutiara
diantara samudra kesedihanku. Kemarilah dan rengkuh aku. Kekasihmu yang lapar
dan haus akan kasih sayang. "
Seketika selayang kenang pada kening melesat memenuhi seisi
kepala. Pertemuan pertama dengan Zahra,
Bunga Melati yang mekar dihati.
Ketika itu embun pagi membasahi kedua pipi manis seorang
wanita, ia sedih, entah siapakah yang tega menyakiti hati seorang bunga seindah
ini. Siapa pula yang tega mengabaikan ia sendirian.
Sekejap saja hatiku tergugah untuk menenangkannya. Bulu
matanya yang basah membuat setiap sendi meraung kesakitan. Sedihnya ialah
sedihku, kita bagai satu anggota badan. Jika salah satunya merasa sakit maka
air mata akan menetes dan spontan mulut berteriak kesakitan.
Aku menghampiri wanita yang basah kedua pipinya seraya
berkata, "siapa gerangan yang tega melihat seorang merasa sedih sendirian
ditengah panasnya siang? duka apa yang membuat kedua pipimu basah kuyup?"
Seketika wajah cantiknya menoleh pada diriku sambil mengusap
kedua pipinya, sesekali menampakkan senyum tanda dia baik-baik saja, tetapi aku
tahu dia menyimpan sedih, namun senyumannya pada saat itu benar-benar menyihir
hatiku untuk tunduk padanya.
Nyaris sejak hari itu hatiku terpaku, mulutku berbusa lelah
menyebut namanya, pikiranku terus berputar diantara fatamorgana wajahnya.
Seakan-akan seluruh tubuh dan ruhku berkata aku
mencintainya. Nyaris berhari-hari tak lelah aku menasbihkan namanya, hatiku bergejolak
seperti ombak tatkala memandang wajahnya.
Terkadang, tubuhku bergerak sendiri mengikuti tiap derap
langkahnya, memandang punggungnya dan tak tahu kapan harus berhenti
mengikutinya seperti seekor anak itik yang terus mengikuti induknya. Sampai-sampai
sahabatku memanggilku sebagai mata-mata Cinta. Ia terheran-heran dengan sikapku
yang aneh.
"Kau ini kenapa? Seperti mata-mata? Mengikuti setiap
derap langkah seorang wanita? Ataukah kau ini penjahat kelamin? Haha,"
gurau kawanku tiap melihat tingkah anehku.
"Aku hanya mencintai seseorang. Aku tak tahu harus
bagaimana. Aku bagaikan daun dan dia adalah angin, yang menerbangkanku, tujuan
akhirku, jalan pulangku, tapak kakiku. Hanya mencintainya."
Sahabatku pun kaget melihat tingkah anehku, ia merasa ada
yang salah dengan tingkah sahabat karibnya ini. Tatapannya seolah kosong, entah
pikirannya pergi kemana.
"Kau terkena guna-guna? Astagfirullah. Rasanya kau
perlu di ruqyah, "ujar kawanku dengan tatapan serius.
"Tidak! Cinta bukanlah sihir. Ataupun penyakit. Cinta
adalah makanan sehari-hari jiwa kita. Eksistensi kehidupan dunia tak sekedar
mencari dan memenuhi hasrat terhadap materi belaka. Jiwa yang selama ini kurus
kering dan kering kerontang tak dipenuhi kebutuhannya meminta untuk diisi dan
diberi makan juga bukan?"
Wajah sahabatku heran sampai menggelengkan kepalanya, ia
kehabisan kata-kata. Rasanya sulit sekali menasehati orang yang jatuh cinta.
Cinta bukan berarti keras kepala, namun cinta adalah perasaaan indah yang tak
bisa dijelaskan, tak bisa dipaksakan. Hanya orang yang mencintai yang merasakan
keindahannya.
Begitulah kiranya. Pertemuan pertamaku dengannya, namun
sampai saat ini aku belum berani mengungkapkan perasaanku untuknya. Ragu terus
menghantuiku, bagaikan angin topan yang membuatku berputar-putar pada siklus keraguan
akan pernyataan Cinta.
Aku teringat perkataan Jalaludin Rumi. Bahwa mencintai dalam
diam tak akan kutemukan penolakan, tak ada orang lain yang memilikinya selain
aku. Benar kata rumi, mencintai dalam diam penuh keindahan dan jutaan harapan
yang tak tersampaikan. Cinta dalam diam adalah kesabaran, menunggu yang tak
tentu, menanti yang tak berhenti, mencintai yang tak berharap dicintai.
Hujan masih deras, tanah-tanah menjadi basah, dedaunan dan
bunga-bunga, aku rasa mereka bahagia. Hujan adalah kawan walaupun ia sering
kali merintikkan kenangan. Aku masih menunggu hujan mereda, sambil menikmati
udara dingin yang meresap. Sorot tatap mataku pun berpaling ketika melihat
sosok dengan hijab bewarna hitam, ia ada di seberang pejalanan kota.
Ia menoleh padaku dari kejauhan, ia nampak seperti seseorang
yang kucinta. Ya benar, aku tak salah. Dia adalah bunga Melati yang mekar di
hati, Zahra. Senyumnya bagaikan oase di padang pasir, musafir mana yanh tak bahagia ketika melihatnya? Sorot
tatap matanya seperti sebotol anggur, sedikit saja kutatap mabuk kepalang seisi
kepala. Saat melihatnya hatiku berdebar, menyambar seperti petir. Pecinta mana
yang tak bahagia ketika bertemu sosok yang dicintai?
Mataku tak bisa berpaling darinya, seperti bumi yang terus
mengelilingi sang Matahari. Kau lah pusat tata Surya cintaku, tempatku
berthawaf. Kau gravitasi yang paling kuat diantara banyaknya galaksi. Aku benci
pada mobil-mobil yang berlalu-lalang menutupi wajahmu, ia ibarat gerhana yang
menutupi cahayamu. Bagiku kau begitu dekat tak bersekat pun juga kau begitu
jauh
Tak tersentuh...
Layaknya siang dan malam, hidup tak melulu selalu bahagia.
Pun juga dalam mencintai dalam diam. pasti ada waktu dimana duka itu tiba.
Mencintai dalam diam memang Indah, tiada yang bisa memilikinya dalam khayal
kita. Namun duka itu seketika datang, secepat sambaran kilat, tepat di depan
mataku.
Seseorang datang menemui bunga melatiku, sembari tersenyum
dan mencium kedua pipi melatiku. Ia memegang tangannya, hatiku pun bergejolak
bagai ombak yang meraung menjelma tsunami. Rasanya seperti dihujam sepuluh ribu
duri. Lelaki bertubuh tinggi dengan
pakaian rapi itu memberikan kotak berisi coklat pada kasihku. Ia bagai pak tani
yang mencabuti lahan bungaku Membuat Taman bunga yang mekar dihatiku seketika
menjadi lahan tandus gurun sahara, hampa tiada bunga maupun pepohonan yang
menghiasi.
Luka terbesar bagi pecinta adalah ketika yang dikasihinya
mencintai orang lain. Dan seketika aku merasa seperti debu, yang kian diabaikan
sang angin. Tak ada hal lain yang diinginkan debu selain jatuh
sejatuh-jatuhnya. Namun keindahan sang angin mencegahnya. Begitulah kiranya
nasibku kini.
Dalam ruhku, sudah ratusan liter air membasahi mataku,
jiwaku berteriak keras, meraung-raung dalam kesunyian. Hujan tak hanya
membasahi seluruh kota, kini hujan telah membasahi kedua mataku. Tak ada majas
ataupun kata-kata yang mampu mendeskripsikan perasaanku saat ini.
Memang begitulah konsekuensi mencintai dalam diam. Hati
harus siap terhujam, penuh ketabahan, penuh keyakinan. Bahwa Cinta tak akan
kemana-mana, meski kau telah menemukan sandaran bahu, aku akan tetap tegar
dengan pendirianku. Mencintaimu dalam kesenyapan, kesunyian, Karena dalam diam
tak kutemui penolakan. Meski hatiku kini segersang gurun sahara, kau adalah
oase-oase yang menghiasinya, tak kubiarkan kau pergi dalam hati. Hujan, Guntur
dan awan-awan hitam menjadi saksi bahwa Cinta tak akan pernah padam, meski
tanpa kata, tanpa balas, tanpa apa-apa. Mencintai adalah kodrat tiap manusia.*
-teruntuk mereka yang tabah mencintai tanpa berharap
kembali.